Elon Musk mengatakan bahwa mata uang di masa depan akan diukur dalam watt dan tonase, bukan dolar. Analis Charles Edwards menilai Bitcoin (BTC) sebenarnya sudah berfungsi dengan cara tersebut, serta saat ini Bitcoin diperdagangkan sekitar 36% di bawah nilai berbasis energinya.
Memang, Musk sama sekali tidak menyebut Bitcoin saat diwawancarai. Namun, uang yang berpatokan pada energi menggambarkan satu sifat yang memang sudah ditanamkan oleh sistem proof-of-work dalam jaringan.
Apa Maksud Elon Musk dengan Uang yang Diukur dengan Energi?
Musk menyampaikan pandangan itu kepada penulis biografinya, Walter Isaacson, di podcast The Builders. Wawancara ini direkam pada awal Agustus, lalu dirilis tanggal 20 Oktober.
Musk berpendapat bahwa AI dan robotika akan membuat uang dan pekerjaan menjadi hal yang tidak lagi relevan. Tapi, ia tidak sampai memprediksi bahwa mata uang akan benar-benar hilang.
“Akan tetap ada suatu mata uang, tapi saya rasa mata uang akan diukur dengan metrik fisika dasar seperti daya, watt dan tonase, massa, serta energi… mata uang konvensional tidak akan berarti apa-apa di masa depan.”
Elon Musk, CEO Tesla dan SpaceX, di podcast The Builders
Gagasan mengenai hal ini sebenarnya bukan hal baru baginya. Pada bulan Juni lalu, Musk menulis di X bahwa massa dan energi akan menggantikan peran dolar.
Prediksi ini pun datang dari orang terkaya di dunia. Business Insider melaporkan kekayaan bersih Musk sekitar US$920 miliar menurut Bloomberg Billionaires Index.
Apakah Bitcoin Sudah Terkait Harga Berdasarkan Daya Listrik?
Edwards, pendiri Capriole Investments dan anggota Dewan Pakar Market Intelligence BeInCrypto, merespons dalam hitungan jam. Menurutnya, energi dan harga memiliki hubungan satu banding satu.
Pada makalah tahun 2019, ia menghitung nilai wajar berdasarkan listrik yang digunakan para miner. Masukannya adalah hashrate, efisiensi perangkat keras, pertumbuhan suplai, dan konstanta dolar per joule yang tetap.
Capriole menegaskan harga cenderung kembali ke Energi Value ini seiring waktu. Tidak seperti model berbasis kelangkaan, harga juga bisa jatuh ke nol jika semua miner mematikan mesin.
Pada waktu publikasi, BTC diperdagangkan di kisaran US$83.264, naik 2,3% dalam 24 jam terakhir, menurut data harga Bitcoin BeInCrypto. Jika dibandingkan dengan Energy Value sebesar US$131.057, terdapat selisih sekitar 36%.
Untuk menutup selisih ini, harga perlu naik sekitar 57%. Secara historis, harga pernah melampaui garis ini saat puncak tahun 2013, 2017, dan 2021.
Sebaliknya, saat harga di bawah garis ini berkorelasi dengan titik terendah pada tahun 2015, 2018, 2020, dan 2022. Siklus kali ini mematahkan pola tersebut, sebab BTC bergerak sejalan dengan garis sepanjang 2024 dan 2025 tanpa adanya premi spekulatif.
Miner Tetap Menyalakan Mesin, Kenapa Harga Tidak Ikut Naik?
Data Blockchain.com menunjukkan hashrate, yaitu kekuatan komputasi yang mengamankan jaringan Bitcoin, mencapai puncak 1,1 zettahash per detik (ZH/s) pada Oktober 2025.
Sejak saat itu, angkanya sempat turun ke sekitar 900 exahash per detik (EH/s) akibat tekanan terhadap Bitcoin miner. Saat ini, hashrate sudah kembali ke atas 1 ZH/s.
Sementara itu, harga Bitcoin nyaris turun setengah dari rekor tertingginya pada Oktober 2025 sebelum akhirnya menemukan level support di kisaran US$60.000 pada bulan Juni.
Energi yang menopang jaringan nyaris tidak berubah meski harga berbasis dolar bergerak liar. Perkiraan biaya produksi Bitcoin terbaru dari JPMorgan sebesar US$85.000 pun hanya sedikit lebih tinggi dari harga saat ini.
Keterbatasan Argumen Wattage Elon Musk
Bitcoin sebenarnya hanya memenuhi setengah dari rumusan Musk. Sistem proof-of-work mengaitkannya dengan energi, tapi tidak dengan massa.
Musk juga bisa jadi bermaksud bahwa energi itu sendiri yang kelak akan menjadi satuan hitung, tanpa peran token digital apa pun.
Catatan kiprah Musk pun menunjukkan dua sisi. Pada Mei 2021, Tesla menghentikan pembayaran mobil dengan Bitcoin, dengan alasan pembakaran bahan bakar fosil dari aktivitas mining.
Selain itu, hashrate hanyalah pengganti, bukan pengukur daya listrik secara langsung, sebab perangkat mining yang lebih baru sanggup menghasilkan lebih banyak hash per watt listrik.
Meskipun begitu, perdebatan sekarang sudah berubah. Penggunaan energi yang dulu Musk gunakan sebagai alasan menentang Bitcoin, kini justru membuat Bitcoin lebih selaras dengan visinya. Dengan ukuran itu, BTC mungkin lebih mirip uang masa depan dibandingkan dengan dolar.











