Kepala ekonomi makro Janus Henderson, Richard Bernstein, mengatakan bahwa aksi jual saham AI bisa menurunkan biaya pinjaman untuk saham berkapitalisasi kecil. Dia berpendapat The Federal Reserve sedang mengetatkan kebijakan, dan saham-saham spekulatif yang terkena dampak pertama kali.
Sebuah ETF chip besar ditutup pada Kamis lalu hampir 14% di bawah level tertingginya di bulan Oktober, yang dibaca banyak investor sebagai peringatan. Tapi, Bernstein menerangkan kepada CNBC bahwa aksi jual ini juga menyesuaikan harga modal dengan cara yang sehat.
Apakah Aksi Jual Saham AI Bisa Membuat Biaya Dana Lebih Murah untuk Semua Orang?
Bernstein menyampaikan bahwa modal telah mengalir ke industri data center AI dengan syarat yang mudah, sementara perusahaan lain tertinggal.
Jika valuasi di seluruh pasar ikut menyesuaikan, biaya pinjaman bisa menjadi lebih murah untuk ekonomi yang lebih luas, ujarnya.
Ia menunjuk pada saham berkapitalisasi kecil yang dalam beberapa sesi terakhir mencatat kenaikan seiring turunnya suku bunga jangka panjang. tapi, host CNBC menyebutkan bahwa mereka tetap turun selama sepekan terakhir.
Dia juga menyebutkan credit default swap (CDS) spread, yang menjadi penanda risiko gagal bayar, sebagai sinyal ada keraguan terhadap laba. Sementara itu, saham chip turun delapan sesi berturut-turut, menjadi rekor 16 tahun, sehingga memicu perdebatan apakah bubble AI mulai pecah.
Apakah Sektor di Luar AI Bisa Lepas dari Fed yang Serius?
Banyak investor memperkirakan hanya ada satu kali kenaikan suku bunga, terang dia, namun dia tidak sependapat dengan pandangan itu. The Fed menaikkan suku bunga sebesar seperempat poin pada 16 September, kenaikan pertamanya sejak 2023.
Ia menyebutkan laporan harga konsumen, produsen, dan impor yang tinggi sebagai bukti ada masalah inflasi yang nyata.
Harga impor inti meningkat lebih cepat dibandingkan harga konsumen inti, yang membalikkan tren selama 30 tahun terakhir, jelas dia.
“Amerika Serikat sekarang sedang mengimpor inflasi.”
ujar Richard Bernstein, kepala makro global di Janus Henderson, kepada CNBC.
Saham perusahaan barang kebutuhan pokok, produsen barang rumah tangga, berkinerja sedikit lebih baik, yang ia baca sebagai tanda kekhawatiran resesi mulai masuk ke pasar.
Berbanding terbalik, ekonom Peter Schiff menilai sebagian besar saham AS sedang ada di bear market. Data Goldman Sachs menunjukkan median saham S&P 500 kini 16% di bawah puncaknya.
Bernstein mengakui pasar yang lebih luas mungkin tidak banyak membantu data center atau saham teknologi. Walau begitu, ia memperkirakan tren jangka panjang nantinya akan bergeser ke luar kepemimpinan sektor dua hingga tiga tahun terakhir.











