Penulis “Rich Dad, Poor Dad”, Robert Kiyosaki, mengatakan ia tidak sabar menunggu crash berikutnya pada emas, perak, dan Bitcoin. Ia berencana membeli lebih banyak saat momen tersebut tiba.
Alasannya berpusat pada melonjaknya utang global dan apa yang ia anggap sebagai kegagalan uang fiat.
Mengapa Robert Kiyosaki Membeli Saat Orang Lain Panik
Menurut Kiyosaki, masalah sebenarnya adalah meningkatnya utang global, terutama di AS. Ia juga mengkritik “ketidakmampuan” para pemimpin politik.
Selain itu, ia mengecam sistem pendidikan yang mengajarkan “tidak ada, nol, sama sekali tidak tentang uang.” Ia berpendapat bahwa mata uang fiat, yang ia sebut uang palsu, mencuri kekayaan dari pekerja dan penabung.
Kekhawatirannya tentang utang memang punya dasar. Utang federal AS telah mencapai sekitar US$40,6 triliun.
Pendapat ini senada dengan mantra lamanya bahwa “penabung adalah pecundang.” Ia juga berkali-kali menyebut AS sebagai “negara dengan utang terbesar dalam sejarah.”
Akankah Strategi Crash Kiyosaki Berhasil Kali Ini?
Kiyosaki memang sudah lama menyambut datangnya crash.
Sebelumnya, ia menargetkan Bitcoin di US$250.000, emas di US$27.000, dan perak di US$100 pada tahun 2026.
Perak kemudian menembus targetnya, mencapai puncak US$121 per ons pada akhir Januari. Namun, reli itu tidak bertahan lama. Pada 29 Januari, harga emas sempat menyentuh US$5.600 sebelum anjlok US$400 hanya dalam sekitar 30 menit.
Saat ini, ketiga aset tersebut diperdagangkan jauh di bawah level itu. Contohnya, harga perak sekarang bahkan kurang dari setengah puncaknya di Januari. Meski begitu, harga ketiganya sempat rebound setelah pemilihan paruh waktu AS pada Selasa, ketika Partai Demokrat menguasai Kongres.
Harga emas naik 2,34% ke atas US$4.023 per ons setelah sempat menyentuh level terendah tahunan, dan perak melonjak hampir 4% mendekati US$52. Sementara itu, dolar AS yang melemah juga turut mendukung reli.
Bitcoin juga pulih ke sekitar US$80.500 setelah sempat turun ke US$75.618 pada Rabu sebelumnya. Meski begitu, aset kripto utama ini masih turun sekitar 3,8% dalam sepekan terakhir.
Bagi Kiyosaki, harga yang lebih rendah ini bukan ancaman, melainkan peluang. Tapi untuk membeli saat crash butuh dana cadangan, mental yang kuat, dan kesabaran ekstra. Lagi pula, menentukan harga terendah selalu sangat sulit.











