Seorang hakim federal di Washington menolak gugatan pencemaran nama baik yang diajukan oleh influencer XRP Jake Claver terhadap kreator konten Zach Rector pada 2 September.
Pengadilan memutuskan bahwa video-video Rector pada tahun 2025 tentang bisnis Claver tidak mengandung pernyataan salah yang dapat dituntut secara hukum.
Apa yang Sebenarnya Dirujuk di Video Rector
Gugatan yang ditolak tersebut berfokus pada tiga video yang diunggah Rector, di mana ia menuduh adanya pelanggaran di Digital Ascension Group dan Digital Wealth Partners milik Claver, menurut laporan di X. Video-video tersebut mengacu langsung pada pengakuan Claver sendiri dalam gugatan terpisah di New York yang diajukan oleh pemroses pembayaran Verivend Inc.
Pada kasus itu, Claver mengakui telah memalsukan email, konfirmasi transfer dana, serta tangkapan layar dashboard wallet Verivend yang menunjukkan saldo palsu lebih dari US$1 juta, sesuai dokumen pengadilan.
Berkas pengadilan juga menunjukkan Jake Claver mengaku beberapa kali menyamar sebagai karyawan Verivend untuk membuat rangkaian email palsu.
Hakim Kymberly K. Evanson mengabulkan permohonan Rector berdasarkan Washington Uniform Public Expression Protection Act, undang-undang anti-SLAPP negara bagian yang dirancang untuk melindungi kebebasan berbicara dalam hal kepentingan publik.
“Mungkin kita kadang tidak sependapat, namun ketika Jake Claver menggugat Zach Rector, sesama suara di komunitas XRP, dan mengubah kritik prediksi harga menjadi pertarungan federal senilai US$30 juta, hanya untuk diberitahu bahwa ucapannya dilindungi hukum, kondisi ini lebih mencerminkan pihak penggugat daripada videonya…,” tutur seorang pengguna di X.
Ikuti kami di X untuk mendapatkan berita terbaru secara langsung.
Pengadilan menolak seluruh tuntutan Claver, termasuk pencemaran nama baik, intervensi tanpa hak, konspirasi, dan pelanggaran kontrak, tanpa prasangka. Evanson juga memutuskan bahwa Rector berhak menerima ganti rugi biaya pengacara dan biaya perkara. Claver masih bisa mengajukan gugatan yang telah diperbaiki hingga 23 September.
Rector mengonfirmasi putusan tersebut secara langsung, ia menyampaikan bahwa pengadilan tidak menemukan pernyataan palsu dalam videonya dan ia berhak mendapatkan ganti rugi biaya karena gugatan Claver menargetkan kebebasan berbicaranya dalam isu yang berkaitan dengan kepentingan publik.
Pola yang Sudah Sering Terjadi pada Kasus Pencemaran Nama Baik di Dunia Kripto
Ini bukan kali pertama klaim pencemaran nama baik dari influencer kripto terkenal gagal melawan kritik. Pada tahun 2022, pendiri BitBoy Crypto Ben Armstrong sempat menggugat YouTuber Erling Mengshoel Jr., alias Atozy, terkait sebuah video yang menuduhnya mempromosikan token gagal.
Armstrong secara sukarela mencabut gugatannya beberapa minggu kemudian setelah Atozy berhasil mengumpulkan lebih dari US$200.000 melalui crowdfunding untuk biaya pembelaannya, saat kecaman publik makin meningkat. Tidak seperti kasus Claver, tidak ada putusan hakim dalam kasus itu, sehingga tidak menjadi preseden hukum formal.
Langganan channel YouTube kami untuk menyaksikan pemimpin dan jurnalis berbagi wawasan ahli.
Meski begitu, kedua kasus tersebut memperlihatkan dinamika yang terus berulang di dunia kripto: gugatan pencemaran nama baik yang diajukan terhadap para kritikus vokal kerap gagal bertahan di hadapan sorotan publik dan hukum, dan biasanya berakhir dengan pencabutan atau penolakan — bukan kemenangan bagi penggugat.
Putusan ini memunculkan reaksi kuat di komunitas XRP di dunia maya, di mana beberapa pengamat menilai hal ini sebagai pembenaran atas laporan Rector sekaligus peringatan agar tidak menggunakan gugatan pencemaran nama baik untuk membungkam kritik di industri kripto.









