Cina bisa saja memicu supercycle Bitcoin berikutnya jika Beijing mengizinkan warganya untuk melakukan trading aset kripto di bawah pengawasan ketat. Hal ini menurut mantan bankir UBS, Joseph Chee, meski ia tidak memberikan batas waktu kapan hal tersebut akan terjadi.
Sebelumnya, Chee pernah memimpin divisi perbankan investasi Asia di UBS. Sekarang, ia memimpin Solana Company, sebuah perusahaan yang terdaftar di Nasdaq dan menjadikan token Solana (SOL) sebagai aset treasury mereka.
Hong Kong Jadi Uji Coba Kripto Cina
Trading aset kripto masih ilegal di daratan utama. Pada bulan Februari, Bank Sentral Cina (PBOC) bersama tujuh lembaga lain kembali menegaskan larangan tersebut dan tetap membatasi stablecoin agar tetap harus disetujui pemerintah lebih dulu.
Saat berbicara di program Squawk Box Asia CNBC, mantan eksekutif UBS itu menyampaikan bahwa Beijing sangat memantau perkembangan teknologi ini lewat lembaga think tank dan para akademisi.
Menurut Chee, para pejabat Cina memanfaatkan Hong Kong untuk menguji bagaimana aset kripto dapat diadopsi dan dikendalikan.
“Ketika pemerintah Cina menemukan cara untuk mengelola hal ini dan membolehkan akses untuk trading kripto… menurut saya aset kripto akan masuk ke supercycle berikutnya,” ujar Chee menjelaskan.
Ia menambahkan, saat ini Beijing mungkin belum akan memperbolehkan trading atau penerbitan stablecoin dalam negeri, yaitu token yang dikaitkan dengan mata uang seperti dolar AS.
Apa yang Menghambat Cina Membuka Lagi Trading Kripto?
Chee menyebut ada dua kendala utama:
- Pertama, para pejabat yang akan mengawasi pasar ini harus memahami industri tersebut.
- Fokus yang lebih besar, ucapnya, yaitu risiko aliran modal keluar atau capital flight dari negara. Sampai saat ini, Cina masih memiliki kontrol modal yang ketat untuk membatasi arus uang ke luar negeri.
Pernyataan Chee datang di tengah tekanan ekonomi dalam negeri di Cina, yang memaksa negara itu menutup lembaga peminjaman dalam jumlah terbanyak. Sebagai catatan, negara ini mencatat 670 penutupan bank pedesaan pada tahun lalu karena lonjakan kredit macet.
BeInCrypto pernah melaporkan pada bulan Mei bahwa pengetatan aturan terhadap broker offshore di daratan utama bisa mendorong para trader menggunakan token yang dipatok dolar AS untuk memindahkan dana.
Chee menyebutkan bahwa volatilitas harga — masalah lama yang menjadi perhatian PBOC — akan tetap ada.
Sementara itu, pemerintah Hong Kong beserta Securities and Futures Commission (SFC) berencana memperkenalkan RUU tahun ini yang akan mengatur lisensi bagi dealer, kustodian, penasihat, dan manajer dana kripto.
Christopher Hui, Sekretaris Jasa Keuangan dan Treasury Hong Kong, juga menyampaikan target tersebut dalam jawabannya kepada anggota parlemen di bulan Juni. Kota itu mengizinkan dua penerbit stablecoin yang didukung bank untuk beroperasi pada bulan April, dan stablecoin Hong Kong pertama resmi diluncurkan di bulan Agustus.
Beijing belum pernah mengumumkan rencana untuk memperluas kebijakan ini ke daratan utama.









