Bill Gates menilai bahaya terbesar dari artificial intelligence (AI) saat ini justru datang dari orang-orang jahat yang menggunakannya tanpa pengaman. Menurutnya, risiko AI lepas dari kendali manusia baru akan terjadi beberapa tahun ke depan.
Co-founder Microsoft itu mengungkapkan hal tersebut kepada Jake Tapper dalam acara State of the Union di CNN. Ia juga menyebut serangan siber kemungkinan akan menjadi contoh paling jelas dari penyalahgunaan AI selama satu tahun ke depan.
Penghapusan Pengaman Jadi Inti Peringatan AI dari Bill Gates
Tapper menanyakan apakah para pemimpin sudah melakukan cukup pencegahan terhadap bioterorisme berbasis AI. Gates mengungkapkan bahwa upaya yang dilakukan masih kurang.
Ia menyampaikan bahwa para pengembang memang berusaha mencegah serangan siber dan bioterorisme melalui pengaman, namun semua itu bisa dihilangkan saat ini.
“…bahaya sesungguhnya saat ini bukanlah AI yang lepas kendali,” ujar Gates.
Gates menyoroti gabungan pelaku jahat, ketiadaan pengaman, dan kemunculan model-model AI terbaru. Ia menyinggung adanya model bisnis yang sudah dikenal dan terdiri dari dua bentuk.
Salah satunya terkait ancaman melakukan sesuatu dan meminta bayaran. Sementara bentuk lain, yaitu menciptakan gangguan yang bisa menggerakkan pasar saham atau mempengaruhi aktivitas taruhan.
“Ketika ada orang jahat, tidak ada pengaman, lalu ditambah model-model AI terbaru, di situlah, utamanya dalam bidang siber selama satu tahun ke depan, kita akan mengalami banyak kejutan negatif,” terang dia.
Ikuti kami di X supaya tidak ketinggalan berita terbaru secara real-time
Industri AI Juga Mengeluarkan Peringatan yang Mirip
Perusahaan teknologi pun memproyeksikan waktu yang lebih singkat lagi. Pada bulan Agustus, OpenAI menerbitkan surat terbuka mengenai pertahanan siber yang ditandatangani lebih dari 100 organisasi.
“Dalam beberapa bulan ke depan, serangan siber berbasis AI akan menjadi jauh lebih umum dan semakin canggih…” demikian isi surat tersebut.
Penelitian terbaru menunjukkan pengaman yang lemah sudah membentuk pola perilaku penyerang. Perusahaan Taiwan TeamT5 menemukan bahwa kelompok yang terafiliasi dengan negara Cina melipatgandakan jumlah serangan setelah pekerjaan rutin dialihkan ke AI.
Chainalysis mencatat peningkatan serupa pada blockchain. Instruksi malware yang dibuat langsung di atas chain melonjak 440% setelah model AI dari Cina yang bisa diakses bebas dan tanpa batasan pada kode jahat hadir pada pertengahan 2025.
Motif keuntungan juga terlihat pada sejumlah kasus terkini. CrowdStrike menemukan beberapa kasus peretasan bank Korea Selatan terkait pelaku yang diduga bermotif keuangan menggunakan alat AI.
Langganan channel YouTube kami untuk menyaksikan wawasan ahli dari para pemimpin dan jurnalis









