Trader kripto kehilangan lebih dari US$1 miliar akibat likuidasi paksa dalam 24 jam karena Bitcoin turun ke US$80.393 pada hari Kamis. Sebanyak sekitar US$930 juta berasal dari taruhan bahwa harga akan naik, menurut data CoinGlass.
Aksi jual ini terjadi dua hari sebelum peringatan 10 Oktober 2025, ketika sebuah crash menghapus sekitar US$19 miliar dari perdagangan. Bitcoin mencapai puncaknya di dekat US$126.200 pada pekan itu dan belum pernah kembali sejak saat itu.
Seberapa Mungkin Terjadi Crash Pasar Lagi?
Likuidasi terjadi ketika exchange secara paksa menutup posisi trading yang didanai dengan uang pinjaman setelah deposit trader habis karena kerugian. Setiap penjualan paksa bisa memicu likuidasi berikutnya.
Gelombang likuidasi hari Kamis menjadi pembersihan posisi long terbesar dalam 90 hari terakhir di CoinGlass. Lebih dari US$600 juta terlikuidasi hanya dalam satu jam—angka tertinggi selama satu bulan terakhir.
Meski begitu, totalnya masih sekitar sepersembilan belas dari angka tahun lalu. Jadi, sejauh ini data yang ada belum sesuai dengan kekhawatiran soal repeat crash 10-10.
Tekanan terutama datang dari luar pasar kripto. Notulen The Fed yang dirilis pada 7 Oktober menunjukkan bahwa sebagian besar pejabat melihat kenaikan suku bunga lagi sebagai langkah yang mungkin tepat hingga akhir tahun.
Yield Treasury 10 tahun berada di sekitar 5,3%, dan harga Brent oil diperdagangkan mendekati US$105. Sementara itu, exchange-traded fund (ETF) Bitcoin spot AS membukukan arus keluar sebesar US$487 juta — tertinggi sejak akhir Juni, menurut SoSoValue.
Ethereum bahkan mengalami penurunan lebih dalam, jatuh 4,1% ke US$2.460.
Analis Berbeda Pendapat Apakah Bitcoin Bisa Bertahan di US$80.000
Pada Kamis pagi, BeInCrypto menandai US$81.000 sebagai level berikutnya yang perlu diamati, dengan mengutip data Glassnode terkait pesanan beli terbesar di Binance. Bitcoin menembus level tersebut dalam beberapa jam, lalu kembali naik di atasnya.
Glassnode memetakan klaster taruhan leverage berikutnya berada di dekat US$75.000.
Sementara itu, analis Rekt Capital menyoroti penutupan mingguan pada hari Minggu—harga terakhir di pekan ini—sebagai faktor penentu.
“Bitcoin saat ini gagal retest di sekitar US$82.500. Penutupan Mingguan di bawah US$82.500 dan berbalik menjadi resistance, maka Bitcoin akan kembali ke Macro Accumulation Range,” terang analis tersebut di X.
Di tempat lain, trader Ted Pillows mengatakan ketika Bitcoin kehilangan US$81.500 hingga US$82.000, maka harga bisa meluncur ke US$75.000. Namun, analis Michaël van de Poppe punya pandangan sebaliknya.
Di sisi lain, menurut analis Glassnode, para holder lama, bukan uang baru, yang mendorong reli terakhir. Masuknya dana segar dari ETF, stablecoin, dan treasury korporat justru semakin berkurang.
Hari Sabtu, peringatan 10/10 juga berlangsung saat harga solar AS mendekati US$6,41 per galon—sekitar 73% lebih tinggi dari tahun lalu menurut data AAA. BeInCrypto menyoroti ancaman baru pasar minyak pada hari Rabu.
Ujian makro selanjutnya akan hadir pada 14 Oktober, ketika data inflasi AS untuk September diumumkan. Sampai saat itu, harga Bitcoin bergerak di antara target bawah US$75.000 dan batas US$82.500 yang dibutukan bull untuk kembali ke atas.









